Oleh : Lorista Veronica
Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu Institut Teknologi Sumatera
BAYANGKAN hujan deras turun pada sebuah kota, tetapi air tersebut tidak menggenangi permukaan tanah dan tidak meluap ke mana-mana. Sebuah kota yang berperan seperti spons, menyerap air, menyimpannya untuk sementara, lalu melepaskannya perlahan ke tanah, sebagaimana alam bekerja sebelum kita menutupinya dengan beton.
Kota-kota Indonesia kerap menanggung akibat perencanaan infrastruktur yang mengutamakan beton, aspal, dan saluran drainase sebagai solusi utama mulai terlihat gagal, baik dalam menghadapi intensitas curah hujan yang meningkat maupun kebutuhan dalam mempertahankan cadangan airtanah.
Ironinya, saat hujan terjadi dengan intensitas yang besar, air yang turun ke permukaan tanah tidak bisa ditampung oleh saluran drainase maupun diserap oleh tanah itu sendiri. Akhirnya, air meluap dari saluran drainase dan terjadi banjir, genangan diperparah oleh infrastruktur jalan yang rusak, bahkan air yang meluap dengan debit tinggi juga dapat merusak infrastruktur lainnya.
Sponge City Concept merupakan pendekatan desain kota yang “menyerap, menyimpan, dan melepaskan” air seperti spons. Konsep ini menawarkan perubahan paradigma dalam pengelolaan air perkotaan, tidak berfokus pada pembuangan air melalui saluran drainase yang kerap tidak berfungsi dan tidak dapat menampung aliran air, melainkan penekanan konsep penyerapan dan mengelolanya sebagai sumberdaya yang bernilai.
Secara teknis, Sponge City Concept
menggabungkan infrastruktur hijau dan biru, mulai dari taman penyerapan, bioswale, permeable pavement, kolam retensi dan recharge ponds, hingga green roof yang bekerja sama untuk menurunkan limpasan permukaan, meningkatkan infiltrasi, dan memperkuat proses recharge air tanah. Pendekatan ini sejajar dengan konsep Water Sensitive Urban Design (WSUD) dan prinsip low-impact development (LID) yang telah dikaji dalam berbagai literatur internasional.
Studi yang dilakukan oleh Qian Li, dkk pada tahun 2022 dalam Comprehensive Performance Evaluation of LID Practices for Sponge City Construction di Guangxi, China menunjukkan bahwa kombinasi LID dapat menurunkan limpasan secara signifikan pada kawasan perkotaan, mengurangi risiko banjir, dan meningkatkan ketahanan iklim perkotaan bila dirancang dengan tepat.
Namun, mengadopsi Sponge City Concept di Indonesia bukan sekadar menanam pohon atau menanam ruang hijau di perkotaan secara sporadis. Tantangan yang akan dihadapi jauh lebih struktural. Hambatan regulasi yang masih fragmented antar instansi, seperti perbedaan kewenangan antara pihak yang mengelola insfrastruktur, ruang terbuka hijau, dan tata ruang perkotaan kerap membuat pengembangan infrastruktur hijau tidak terkoordinasi dengan baik.
Di sisi lain, Indonesia juga harus memperhatikan adaptasi teknologi terhadap kondisi lokal, keterbatasan anggaran operasional untuk perawatan jangka panjang, serta lemahnya mekanisme pemantauan dan tata kelola yang terintegrasi.
Di sinilah peran kemitraan multipihak benar-benar menentukan arah perubahan. Transformasi menuju Sponge City Concept tidak mungkin dapat dicapai jika hanya dibebankan pada satu institusi. Pemerintah berperan untuk menyiapkan kebijakan, zonasi, standar teknis, serta skema intensif, mulai dari pengurangan pajak hingga skema pembiayaan berkelanjutan untuk mendorong sektor swasta untuk mengintegrasikan elemen-elemen infrastruktur hijau ke dalam desain dan konstruksi bangunan atau kawasan yang akan dibangun.
Akademisi dan lembaga penelitian dapat menguatkan fondasi ilmiah dengan menyediakan data curah hujan jangka panjang, pembuatan model hidrologi, pemetaan risiko banjir, dan pembuatan sistem monitoring real-time. Komunitas dan LSM dapat berperan dalam menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam perawatan fasilitas hijau, mengedukasi masyarakat dengan mengadakan berbagai kampanye yang dapat membantu mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih selaras dengan Sponge City Concept.
Langkah ini membuka ruang bagi transformasi desain kota yang lebih adaptif terhadap air. Pengalaman dari berbagai negara menunjukkan bahwa kolaborasi dan kerja sama lintas pihak benar-benar mempercepat hasil dan penerapan Sponge City Concept jauh lebih efektif.
Kolaborasi seperti ini juga terlihat di Indonesia, terutama dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara. Otorita IKN bekerja sama dengan Asian Development Bank untuk merancang solusi berbasis alam yang sesuai dengan kondisi hidrologi wilayah tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan Sponge City Concept dapat berjalan jika semua pihak mulai dari pemerintah, akademisi, sektor swasta, LSM, dan masyarakat bergerak searah dengan komitmen yang nyata.
Jika kolaborasi ini dapat terwujud, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk mewujudkan kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Hujan bukan dipandang sebagai sebuah ancaman, tetapi sebagai sumberdaya yang berharga. Air hujan dapat dikelola, disimpan, dan dimanfaatkan kembali sebagai cadangan untuk masa depan. Dengan pendekatan seperti ini, kawasan perkotaan di Indonesia mampu menghadapi tekanan krisis iklim dengan cara yang lebih selaras dengan alam.
Sponge City Concept mendorong perubahan cara membangun lingkungan yang responsif terhadap air. Pendekatan ini menuntut setiap kawasan untuk mampu menyerap, menyimpan, dan melepaskan air hujan sebagai bagian dari siklus ekologinya. Transformasi semacam ini bisa tercapai ketika pemerintah, akademisi, sektor swasta, LSM, dan masyarakat menjalankan konribusi masing-masing secara konsisten. Masa depan itu mulai terbentuk setiap kali para pemangku kepentingan bergerak bersama dan menjadikan keberlanjutan sebagai dasar dalam setiap keputusan pembangunan.
Pada akhirnya, ketika semua pihak dapat bekerja sebagai mitra yang setara, maka masa depan itu bukan lagi sesuatu yang jauh, tetapi sesuatu yang sedang kita bangun hari ini.(*/red)
Referensi:
[1]
D. Yin, Y. Chen, H. Jia, Q. Wang, Z. Chen, C. Xu, Q. Li, W. Wang, Y. Yang, G. Fu and A. S. Chen, “Sponge city practice in China: A review of construction, assessment, operational and maintenance,” Journal of Cleaner Production, 2021.
[2]
L. Qian, W. Feng, Y. Yang, H. Zhengce, L. Mantao and G. Yuntao, “Comprehensive Performance Evaluation of LID Practices for the Sponge City Construction: A Case Study in Guangxi, China,” Cornell University, 2021.
[3]
F. Li and J. Zhang, “A review of the progress in Chinese Sponge City programme: challenges and opportunities for urban stormwater management,” IWA Publishing, 2022.
[4]
H. O. I. K. Nusantara, “NUSANTARA,” 6 September 2023. [Online]. Available: https://www.ikn.go.id/solusi-berbasis-alam-untuk-bangun-kota-spons-ikn?utm.



