Kabupaten Muara Enim Lumbung Energi, Kota Yang Kaya Energi Justru Kekurangan Energi

Muara Enim — Kabupaten Muara Enim dikenal secara luas sebagai salah satu daerah yang mempunyai lumbung energi terbesar di Sumatra Selatan. Namun, gambaran tersebut bertolak belakang dengan kenyataan sehari-hari yang dihadapi warga lokal.

Bisa dikatakan muncul fenomena “Kota kaya energi yang justru kekurangan energi” kini menjadi ironi yang terus menyita perhatian publik.

Demikian dikatakan salah satu Tokoh Masyarakat Kabupaten Muara Enim, Drs. Mukhlisin pada media ini, Jumat (31/7/2026).

Ia mengatakan, Ironi tersebut tecermin dari tiga persoalan utama di sektor energi yang meresahkan warga dan pelaku usaha lokal :

Kelangkaan BBM dan Antrean Panjang: Kebutuhan akan Bahan Bakar Minyak (BBM), baik bersubsidi maupun non-subsidi, makin mendesak. Hal ini terindikasi dari pemandangan harian di berbagai SPBU, di mana antrean kendaraan pribadi hingga angkutan industri mengular panjang hanya demi mendapatkan jatah BBM.

Krisis Listrik di Tengah Ruang Pembangkit: Meski Muara Enim menampung sedikitnya lima Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas tinggi, pemadaman listrik berkala (byar-pet) justru menjadi “makanan sehari-hari”. Kondisi ini paling parah dirasakan oleh masyarakat di kawasan perkotaan Muara Enim dan Kecamatan Lawang Kidul.

Potensi Ekonomi Sumur Minyak Tua: Di sisi lain, terdapat potensi ekonomi rakyat dari pengelolaan sumur minyak tua yang belum terakomodasi secara optimal. Penataan dan legalisasi pengelolaan melalui Koperasi maupun Perusahaan Daerah (Perusda) dinilai bisa menjadi angin segar bagi pendapatan warga setempat.

Terkait hal itu, mendorong peranan Pemkab Muara Enim, dimana masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muara Enim tidak tinggal diam dan dapat mengambil langkah responsif serta proaktif dalam mengawal isu energi ini.

“Pemkab Muara Enim diharapkan hadir dan berani mendorong penyelesaian isu-isu energi ini ke tingkat pusat maupun pemangku kepentingan terkait. Jika pasokan BBM lancar, listrik stabil, dan pengelolaan sumur tua terealisasi secara legal lewat Perusda atau koperasi, roda perekonomian Muara Enim dipastikan akan bergerak jauh lebih cepat,” ujar Mukhlisin.

Sebab, kata dia, penanganan krisis energi lokal ini dianggap sebagai kunci utama untuk membuka potensi ekonomi Muara Enim yang sesungguhnya—agar julukan “Lumbung Energi” tidak sekadar menjadi jargon di atas kertas, tetapi benar-benar menyejahterakan masyarakatnya.(*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *